Logo SantriDigital

Puasa tarwiyah, arafah dan idul adha

Ceramah
A
Abdullah Yazid Luthfi
9 Mei 2026 4 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. {وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ} (سورة الحج: 27) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي Yang terhormat para alim ulama, Bapak-bapak kyai, para asatidz dan asatidzah, tokoh masyarakat yang saya hormati, serta seluruh hadirin sekalian yang berbahagia dalam naungan rahmat Allah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang senantiasa mencurahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam rangka menuntut ilmu, untuk memperdalam pemahaman kita tentang ajaran Islam yang mulia. Terima kasih atas kehadiran Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, semoga kehadiran kita dicatat sebagai amal ibadah di sisi-Nya. Pada hari ini, kita akan bersama-sama merenungkan dan memahami tentang beberapa amalan istimewa yang bertepatan di bulan Dzulhijjah, bulan yang penuh berkah. Khususnya mengenai puasa Tarwiyah, puasa Arafah, serta indahnya hari raya Idul Adha. Tentu saja, bagi kita masyarakat desa, kegiatan berkumpul seperti ini adalah momen yang sangat dinanti untuk saling berbagi ilmu dan mempererat tali silaturahmi. Bapak-bapak, Ibu-ibu yang dirahmati Allah. Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang memiliki keutamaan luar biasa. Di dalamnya terdapat hari-hari yang agung, termasuk puasa Tarwiyah dan puasa Arafah. Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sementara puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Mengapa kedua puasa ini begitu istimewa? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim) Subhanallah, betapa besar keutamaan puasa Arafah ini. Puasa yang hanya sehari, namun memiliki bobot penghapusan dosa yang sangat signifikan. Dosa setahun lalu, dan dosa setahun yang akan datang. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan. Lalu bagaimana dengan puasa Tarwiyah? Meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam hadits yang sama mengenai penghapusan dosa, puasa Tarwiyah memiliki keutamaan sebagai pembuka jalan menuju puasa Arafah. Para ulama menyebutkan bahwa puasa Tarwiyah juga memiliki keutamaannya sendiri, bahkan ada yang menyebutkan bahwa puasa Tarwiyah bernilai seperti menebus seekor unta untuk kurban. Tentu saja, ini adalah gambaran betapa besar pahalanya, bukan berarti menjadi pengganti kurban yang sebenarnya bagi yang mampu. Puasa Tarwiyah dan Arafah ini adalah kesempatan bagi kita untuk melatih diri dalam kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Di tengah kesibukan kita sehari-hari, meluangkan waktu untuk berpuasa adalah bentuk perjuangan melawan hawa nafsu. Selanjutnya, kita akan memasuki hari yang lebih besar lagi, yaitu Idul Adha, yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Hari raya ini identik dengan ibadah kurban. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surat Al-Kautsar ayat 2: {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} (سورة الكوثر: 2) "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." Ibadah kurban ini adalah simbol ketaatan dan pengorbanan diri kepada Allah. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim alaihi salam yang siap mengorbankan putranya, Nabi Ismail alaihi salam, atas perintah Allah. Puncak dari ketaatan tersebut adalah ketika Allah menggantikan Ismail dengan domba. Kurban bukan semata-mata memotong hewan, namun esensinya adalah pengorbanan harta benda untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagi kita masyarakat desa, ibadah kurban ini seringkali menjadi momen kebersamaan yang sangat istimewa. Gotong royong dalam pelaksanaan kurban, pembagian dagingnya, semuanya mengajarkan kita tentang kepedulian sosial dan pentingnya berbagi. Sebagian dari harta yang kita miliki, kita gunakan untuk menunaikan syariat Allah dan untuk membantu sesama. Allah tidak memandang jumlah daging kurban kita, namun yang dilihat adalah ketakwaan kita. {لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ} (سورة الحج: 37) "Daging unta dan darahnya sekali-sekali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah takwamu." Oleh karena itu, mari kita jadikan momen puasa Tarwiyah dan Arafah serta Idul Adha ini untuk meningkatkan kualitas diri kita. Mari kita manfaatkan pahala puasa Arafah untuk menghapus dosa-dosa kita. Bagi yang mampu dan belum berkurban, mari kita persiapkan diri untuk menunaikan ibadah kurban sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah. Mari kita jadikan hari-hari ini sebagai sarana untuk introspeksi, membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Marilah kita renungkan, seberapa besar pengorbanan yang telah Allah berikan kepada kita. Dan seberapa besar pula pengorbanan yang telah kita berikan kepada-Nya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing kita di jalan kebenaran. Amin. Pada kesempatan ini, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan atau ada kesalahan dalam penyampaian. Terima kasih atas perhatian Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →